IDEALITAS VS REALITAS GERAKAN MAHASISWA MEMBANGUN KEMBALI GERAKAN POLITIK BERMARTABAT

Bicara tentang mahasiswa, berarti kita bicara tentang sebuah potensi besar perubahan bangsa dan negara. Tidak  jarang mahasiswa menjadi cikal bakal perjuangan nasional, mulai dari boedi utomo (1908), Perhimpunan Indonesia (1925),dll sampai akhirnya gerakan mahasiswa pada waktu itu mencapai puncak kejayaannya pada 17 Agustus 1945. Tentu masih ingat pula dalam ingatan sejarah mengenai perisitiwa gejayan, perisitiwa cimanggis, dan yang lebih familiar di ingatan kita yakni tragedi semanggi dan tragedi trisakti. Tentu sebuah kejadian yang sangat heroik,  ketika akhirnya dari sekian lama perjuangan mahasiswa untuk melawan rezim otoriter (1966-1998) menemukan titik klimaksnya, dimana Soeharto (Presiden kedua RI) menyatakan mundur dari jabatannya.

Gerakan Mahasiswa Kini

Hal – hal diatas lah yang sering dimunculkan ketika kita bicara mengenai gerakan mahasiswa. Sebuah kenangan kesuksesan masa lalu, sebuah euphoria yang senantiasa diagung – agungkan oleh mahasiswa kita saat ini. Terlena kita dengan masa keemasan tersebut, sehingga semangat TOTAL REFORM !!yang dulu menggaung di senayan sana menjadi redup. Tentu agenda total reform tersebut bukanlah sebuah jargon semata. Semangat nya adalah mereformasi seluruh kehidupan negara baik dalam bidang politik, sosial, ekonomi, dan penegakan hukum. Politik yang bermartabat dan berorientasi rakyat, pemerataan ekonomi dan keadilan dalam hukum, menjadi sekian banyak agenda yang harus dikawal oleh mahasiswa sampai sekarang.

Gerakan mahasiswa harus senantiasa dihidupkan, karena jika bicara mengenai agent of change, maka kita tidak akan lepas dari sebuah pembicaraan mengenai pergerakan. Tentu tidak akan ada change tanpa adanya agent yang peduli dan betul – betul berorientasi untuk perbaikan negara. Namun realita sekarang mengenai agent ini nampaknya sedikit berubah. Dengan gelar “maha” yang disandang oleh agent ini, tidak banyak mengubah keadaan. Inti gerakan mahasiswa ada tiga : membaca, diskusi dan beraksi. Namun ketika syarat pertama saja belum terpenuhi, maka hal ini seperti“katak dalam tempurung”, hanya meloncat – loncat, tanpa pernah bisa pergi dalam tempurung itu. Seperti postulat yang selama ini berkembang di masyarakat “naik ke panggung tanpa persiapan, dan kau akan turun panggung dengan penyesalan”. Membaca menjadikan banyaknya info yang masuk, dan membuat semakin terbukanya cakrawala kita akan kondisi dan situasi yang sedang terjadi di masyarakat. Hal inilah yang menjadi persiapan kita untuk menjadi agent of change.

Esensi gerakan mahasiswa

“Sesungguhnya perjuangan ku lebih ringan dibanding perjuanganmu. Karena aku hanya mengusir penjajah. Sedangkan kau nanti akan berperang melawan bangsamu sendiri”. Itu adalah kata – kata yang pernah diucapkan bung karno untuk pemuda Indonesia. Esensi gerakan pemuda pada zaman itu adalah untuk meraih kemerdekaan, karena saat itu penjajahan secara nyata terlihat dan dialami langsung oleh masyarakat Indonesia. Namun penjajahan itu bukanlah berakhir, namun mengalami transformasi ke bentuk yang lebih lembut, tidak terlihat tapi benar – benar membunuh, bukan hanya secara fisik, melainkan juga ideologi atau pemikiran masyarakatnya. Ketuhanan yang maha esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia. apakah ini ideologi bangsa Indonesia?

Lalu bagaimana dengan kinerja Dewan Perwakilan “Rakyat” sebagai hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan Republik ini. Kasus badan anggaran angelina sondakh? Hambalang? Renovasi miliaran banggar? Nazaruddin? Atau yang lebih miris…pernah dengar berita tentang anggota DPR yang ke luar negeri, dan ketika mereka tiba di bandara, terdapat Tenaga Kerja Indonesia yang sedang kesusahan untuk kepulangan mereka ke tanah air, dan anggota DPR tersebut bersikap cuek dengan keberadaan mereka?. HIKMAT KEBIJAKSANAAN DALAM PERMUSYAWARATAN PERWAKILAN…silahkan anda simpulkan sendiri.

Lalu bagaimana dengan kemiskinan di negara dengan pertumbuhan ekonomi 6% ini? Pada september 2011. 29,89 juta penduduk Indonesia masuk kategori miskin (BPS,2011). Padahal jika dilihat berdasarkan pendapatan perkapita, rata – rata orang Indonesia memiliki pendapatan sekitar 3542,9 dolar (BPS,2011). Angka yang sungguh jauh dari kenyataan adil dan merata, apakah ini yang dulu dicita – cita kan founding fathers negara Indonesia dalam sila kelima Pancasila? Padahal dari kemiskinan itu, bisa menimbulkan multiplier effect bagi kehidupan masyarakat. berapa banyak angka kriminalitas yang timbul dari kemiskinan ini, perampokan, pencurian, perusakan dimana – mana, tindakan amoral, pembunuhan. Apakah ini tindakan bangsa yang dikatakan beradab seperti yang dimaksud dalam sila kedua Pancasila?

Celah – celah inilah yang bisa diisi oleh gerakan mahasiswa. Idealisme yang bersih, semangat yang menggebu, dan fisik yang kuat menjadi kelebihan tersendiri yang dimiliki oleh mahasiswa untuk membangun gerakan politik yang bermartabat. Bangsa ini butuh pergerakan, bangsa ini butuh pemikiran yang rakyatis,dan bangsa ini rindu akan keadilan. Itulah esensi yang harus diwujudkan oleh mahasiswa, lalu bagaimana caranya?

Dimulai dari diri kita sendiri, dimulai dari MEMBACA, DISKUSI, DAN……

BERAKSI..

karena esensi sebenarnya bagi kita sebagai mahasiswa dan manusia adalah MENJADI ORANG YANG BERMANFAAT…karena sebaik – baik mahluk, adalah yang bermanfaat untuk orang lain.

Hidup Mahasiswa!!

Hidup Mahasiswa!!

Untuk Rakyat Indonesia!!

Heru Agus Prayitno

Presiden BEM FISIP UNS Kabinet Rakyat 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s